Bosscha mau pindah.

Rencananya, obsevatorium terbesar pengganti Bosscha mau dibangun di kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur. Saya mendukung kebijakan pemerintah yang satu ini karena Bandung sekarang rame parah! Di sekitar Bosscha sendiri sudah banyak cafe-cafe hits dan hotel dibangun untuk mendongkrak pariwisata kota Kembang. Dampaknya jelas: Polusi cahaya. Musuh utama para peneliti, stargazers dan astronom amatir.

Area observatorium di Kupang nantinya akan dipasang teleskop berdiameter 3.5 meter (5 kali lipat lebih besar dari teleskop di Bosscha saat ini), dan memiliki luas sekitar 30 hektar (area inti obsevatorium), serta dikelilingi 400 hektar hutan lindung (Ga kebayang kalau pas malem gelapnya gimana wkwkwk). Lokasi yang dipilih pun berada di area pegunungan, jauh dari pemukiman, dengan curah hujan rendah dan udara yang bersih. Pembangunan obsevatorium ini direncanakan akan rampung di tahun 2019.

Menurut saya inilah startup kita untuk mulai melek teknologi. Saya sih berharap obsevatorium di Kupang nanti bisa mendorong potensi pendidikan sains di Indonesia. Dan saya sih juga berharap bisa berkunjung kesana suatu hari nanti sambil bilang “ini baru Indonesia yang keren!” haha.

📷in frame: 

1. Kunjungan malam di Bosscha, 15 September 2017

2. Teleskop Refraktor Ganda Zeiss, diameter teleskop utama 60 cm. Digunakan untuk pengamatan bintang ganda dan pengukuran paralaks
-Powered by WordPress for Android-

Iklan

Dunkirk – It’s a war movie with no war ever made

de1db8d66f23e5423706ed22a48a100d.jpg

Dunkirk – Sumber:  google.com

Ketika melihat film perang, yang saya bayangkan adalah aksi baku tembak antara si pasukan musuh melawan pasukan sekutu seperti pada film Pearl Harbor atau Saving Private Ryan. Dimana banyak kekejaman perang, kesedihan pengungsi, dentuman bom, dan tembakan senjata untuk memenangkan pertempuran menjadi poin utama pada film bergenre ini.

Tapi ketika saya melihat Dunkirk, saya melihat hal yang berbeda.

Setelah sukses menjadi sutradara dalam film Inception dan Interstellar, Christoper Nolan juga berhasil membuat saya kagum dengan karya terbarunya yang berjudul Dunkirk. Mengambil setting di masa Perang Dunia II, Dunkirk berkisah tentang aksi penyelamatan 330 ribu tentara Sekutu yang berasal dari 4 negara berbeda yaitu Inggris, Perancis, Belgia, dan Belanda. Tentara-tentara ini tersudut dan terdampar di sebuah pantai yang terletak di kawasan Dunkirk, Perancis. Uniknya, Nolan membawa kisah Dunkirk dengan gaya penceritaan yang tidak biasa.

Proses evakuasi diceritakan lewat tiga sudut pandang dan timeline yang berbeda: The Mole atau Tanggul, The Sea atau laut, dan The Air atau udara. Pada The Mole, menceritakan dua tentara muda Inggris, Tomy dan Alex, dan tentara Perancis bernama Gibson berusaha bertahan hidup. Serta, bagaimana para tentara “petinggi” Angkatan Darat dan Angkatan Laut Inggris, Commander Bolton dan Colonel Winnant memimpin usaha penyelamatan. Lalu pada The Sea, menceritakan perjuangan penyelamatan dari laut yang dilakukan oleh warga sipil Mr. Dawson bersama anaknya, Peter dan temannya, George. Sedangkan, misi penyelamatan yang lebih heroik ada di The Air alias di udara yang dilakukan oleh Farrier dan Collins yang berusaha melawan tembakan musuh. Meskipun diceritakan pada sudut pandang dan waktu yang tak sama, namun akan terhubung menjadi satu cerita utuh di bagian akhirnya.

Menurut saya, Nolan berhasil membawakan sisi humanis pada film perang. Film ini membuat saya sadar bahwa insting mendasar manusia bukanlah siapa yang terkuat, tapi siapa yang dapat bertahan hidup. Penyelamatan 330 ribu manusia bahkan lebih penting daripada perang itu sendiri. Tak banyak dialog yang diucapkan selama 107 menit film berlangsung. Hanya ada emosi, getir, dan perjuangan yang bisa saya rasakan bagaimana para tentara sekutu berjuang mati-matian demi satu hal paling berharga: Pulang.

Salah satu adegan yang bikin saya trenyuh adalah ketika para pasukan tentara berhasil mendarat di Inggris dengan raut muka sedih; membayangkan mereka bakal diolok-olok karena belum berhasil memenangkan perang. Tapi tak disangka mereka malah disambut gembira oleh penduduk kota. Warga menyambut mereka bak Pahlawan yang telah berhasil mengalahkan musuh. Film ini diakhiri dengan pidato Winston Churcill yang ditulis pada surat kabar: “Perang memang tidak dimenangkan dengan evakuasi, tapi kita tidak akan pernah menyerah..”

Reccomended movie!

Task-Oriented Leader vs Human-Relation Leader

carpenter-fig10_011

Ilustrasi Leadership dari flatworldknowledge.com

Epilog

Dua minggu yang lalu aku dikejutkan dengan berita pengunduran diri salah satu asisten manajer produksi, sebut saja namanya pak A. Beliau terkenal orang yang sangat baik kepada semua orang dan sangat taat dalam beribadah. Jujur berita ini sangat mengejutkan karena beliau resign secara mendadak dan terkesan terburu-buru.

Continue reading “Task-Oriented Leader vs Human-Relation Leader”

Sosmed oh Sosmed

fake-news-snopes

Gambar Peringatan Berita Hoax di Internet dari snopes.com

Setiap kali saya membuka Facebook, isinya selalu tentang berita hoax yang tujuannya nyinyir pihak lain. Mulai dari pihak A dianggap salah karena mendukung si B lah, atau pihak lain yang merasa dirinya benar dengan menjatuhkan pihak lain lah, dan banyak lagi berita-berita hoax yang provokatif dan kadang tidak masuk akal.

Media Sosial seakan-akan dijadikan ladang empuk bagi mereka yang mempunyai kepentingan tersendiri. Menyebarkan berita fitnah dengan mudahnya padahal belum tentu berita yang mereka sebarkan itu benar. Ada juga yang menyebarkan berita hoax dengan tujuan kuat-kuatan adu argumen sampai bermusuhan sana-sini, yang akhirnya berdampak pada kurangnya kerukunan masyarakat. Belum lagi meme atau ilustrasi yang bikin risih karena menjelek-jelekkan pihak lain, akhirnya berdampak pada kurangnya toleransi dan kerukunan antar warga negara Indonesia. Apa nggak capek bertengkar terus? Merusak keutuhan bhineka tunggal ika dengan mengirimkan berita-berita yang tidak penting?

Sosial media pada saat ini bukan lagi menjadi media informasi yang dipercaya. Banyak berita-berita yang diragukan kebenarannya bertebaran dan dibuat seakan itu real. Manusia seperti termakan gosip-gosip ibu rumah tangga yang pagi-pagi membeli sayur dengan roll rambut dan daster bolongnya. Okelah, memang posting di sosmed itu hak masing-masing setiap orang, tapi jika beritanya tidak bisa dipertanggung-jawabkan dan tidak ada referensi sumber yang jelas mengapa harus mentah-mentah dipercayai? Lalu tanpa ada angin tanpa ada hujan langsung nyinyirin orang lain? Bukannya dapat informasi positif, tapi malah menambah dosa. Naudzubillah.

Setidaknya kita bisa belajar dari rokok yang memfilter zat berbahayanya. Tidak semua informasi yang didapat langsung dilahap. Bisa dengan klarifikasi informasi, atau bisa menanyakan langsung kebenaran berita tersebut. tentunya akan lebih baik untuk crosscheck the truth daripada memendam berita kepalsuan.

Kalau aku pikir-pikir sih, rasanya menjadi seseorang yg kudet (kurang update) itu lebih baik daripada menjadi seseorang yang update tapi isi updatenya berita hoax.

Mending fokus perbaiki diri dan buat karya nyata kontribusi untuk sekitar. Perhatikan keluarga lebih dalam, fokuslah pada pekerjaan dengan lebih baik, perbaiki kualitas amalan ibadah, ajak ngobrol dan dengarkan cerita tetangga, bacalah buku yang berbobot. Banyak hal yang masih bisa dan seharusnya untuk dilakukan. Yang meskipun tampak kecil, tapi nyata dampak perbaikannya.

Tidak bergeser kaki kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat, hingga ditanya tentang empat perkara, tentang umurnya untuk apa dihabiskan, ilmunya bagaimana dia amalkan, hartanya dari mana ia dapatkan dan untuk apa ia belanjakan dan tentang tubuhnya bagaimana dia memanfaatkanya.” (HR. at-Tirmidzi)

Yang terpenting jangan lupa banyak berdoa supaya dijauhkan dari fitnahnya jaman 🙂

Selamat Malam.

Mungkin Bukan ‘Waktu’ku

Waktu

Sumber Gambar : http://unjkita.com

Melihat fenomena teman-teman yang sudah pada dilamar dan menikah membuat hatiku agak goyah. bertanya tanya pada diri sendiri kapan aku bisa menyempurnakan setengah ibadahku seperti mereka, hidup bersama dengan orang yang mereka cintai, membangun keluarga yang selalu diliputi rasa cinta dan kisah romantis, membangun keluarga yang selalu diberkahi Allah.. ah betapa bahagianya. Continue reading “Mungkin Bukan ‘Waktu’ku”

Aku dan langit malam

Aku suka sekali memandangi langit malam, Apalagi malam penuh bintang. Tahu kenapa? karena bintang yang tampak kecil itu adalah hiasan terbaik pada langit malam.Apalagi kalau ada bulan, itu lebih baik. Langitnya jadi komplit. Melihat langit malam dan hiasannya itu seperti pertanda bahwa ada rindu yang sedang menyesak. Kadang membawa haru, kadang membawa luka, kadang juga membawa bahagia. Rindu adalah pertanda alam akan sebuah kebutuhan bernama kebersamaan. Rindu itu sama indahnya dengan langit malam, membuat ucap syukur lebih sering dituturkan, membuat kita lebih banyak berdoa. Berdoa untuk dia yang kita rindukan. Begitu kan?

-dari sebuah akun di Tumblr

Kutipan itu memang benar. Langit malam adalah salah satu anugerah Tuhan yang tak terkira. Seakan seolah-olah mengajak kita untuk terus memandanginya sepanjang malam. Pemandangan indah penutup hari agar kita lebih sering mengucap syukur pada Sang Pemilik Semesta Alam.

Langit malam. Itulah hal yang membuatku sangat tertarik dengan ilmu astronomi; ilmu yang mempelajari tentang ruang angkasa dan segala isinya. Ilmu yang perhitungannya bisa menjebolkan kalkulator. Ilmu yang bisa melampaui batas imajinasi manusia, ilmu yang mempelajari bagaimana alam semesta terbentuk—tentunya kita harus yakin bahwa Tuhan juga ikut ambil bagian dalam penciptaan alam semesta ini.

Ketertarikanku berawal saat aku kelas 5 SD dan ikut Persami (kegiatan perkemahan Sabtu-Minggu) di sekolah. waktu itu tengah malam dan langit sedang cerah. Kemudian kakak Pembina menyuruh kami keluar kelas untuk menikmati api unggun dan bernyanyi bersama. Aku segera berlari menuju lapangan, lalu aku melihat ke atas. Aku melihat bintang-bintang berserakan memenuhi langit. Sangat indah. “Aku belum pernah melihat bintang-bintang sebanyak ini,” pikirku. Ketika kepalaku masih menengadah ke langit, teman sebelahku mengajak untuk segera duduk menikmati api unggun. Saat itulah, aku jatuh cinta pada langit malam untuk pertama kali.

Setelah kegiatan persami tersebut aku jalan-jalan ke toko buku bersama ibu. Toko buku adalah salah satu spot paling favorit untuk kukunjungi, bahkan sampai sekarang. Anak perempuan seumuran kelas 4 atau 5 SD biasanya masih senang bermain boneka Barbie, tapi aku tidak. Kelas 4 SD aku sudah dibelikan ibu beberapa buku ensiklopedia yang isinya lumayan agak berat untuk usia anak SD. Karena sering dibelikan buku, jadi ya kubaca saja. Buku demi buku kubaca berulang-ulang sampai aku paham. Akhirnya lama kelamaan aku menikmati hobi baru tersebut. Oh ya, kembali lagi ke cerita tadi. Setelah kegiatan persami aku dibelikan buku ensiklopedia anak-anak tentang luar angkasa. Aku sangat antusias membaca buku tersebut. Dari buku itu aku mulai mengenal tata surya dan seluruh anggota planetnya, mengenal bagaimana rupa matahari, bumi, bulan, dan tetangga-planet, bagaimana sebuah bintang itu terbentuk, bagaimana cara membaca peta bintang dan kontelasinya—dan saat itu aku baru ngeh ternyata bintang di langit itu ada pembagian rasi-nya, dimana rasi tersebut bisa menunjukkan musim saat itu, kapan waktu panen, penunjuk arah saat kita sedang berlayar di laut—dan banyak lagi ilmu-ilmu baru tentang luar angkasa yang aku pelajari.

Menginjak kelas 6. Aku dan teman-teman sekelas pergi karyawisata ke Planetarium di kawasan Surabaya Utara, mengunjungi Monumen Jalasveva Jayamahe di Pelabuhan Tanjung Perak dan terkahir berkunjung ke Monumen Kapal Selam. Yang paling kusenangi adalah mengunjungi planetarium. Disana kami disuguhkan pemandangan langit malam dan nama-nama bintang yang sering muncul. Kami juga disuguhkan bentuk-bentuk rasi bintang. “Persis yang ada di buku!” kataku. Aku tidak berhenti tersenyum karena melihat pemandangan langit malam yang lebih indah dari yang sebelumnya—meskipun bukan pemandangan yang sebenarnya—tapi aku sangat senang menikmati nya selama beberapa menit.

Sampai sekarang pun, aku masih ingin melihat pemandangan langit malam yang sebenarnya. Dimana langit malam sedang cerah, tidak ada polusi cahaya, penuh bintang, serta ditambah kabut tipis galaksi bimasakti yang menambah keindahan langit malam. Sayangnya di kota besar seperti Surabaya aku tidak bisa menemukan tempat segelap itu. Butuh perjalanan beberapa jam keluar kota, mungkin di daerah padang rumput atau dekat gunung kita bisa melihat pemandangan langit malam yang menakjubkan.

Pernah ketika bulan Mei 2016 aku dan teman-teman SMP berlibur ke Kawah Ijen, Banyuwangi. Kami melakukan pendakian pukul 01:00 dini hari dan sampai puncak Ijen sekitar pukul 03:45 pagi. Untungnya malam itu sedang cerah. Selama perjalanan tak henti-hentinya aku berhenti sejenak, mendongak ke atas untuk melihat keindahan langit malam. Baru pertama kali aku melihat pemandangan se-luar biasa itu. Jauh jauh lebih indah dan mempesona daripada langit malam yang kulihat waktu SD. Bintang-bintang berserakan tak beraturan seperti pasir yang ada di pantai. Mungkin jumlahnya milyaran. Kulihat kabut tipis sang Bima Sakti yang menambah decak kagumku. Tak henti-hentinya aku mengucap dzikir untuk mengingat kekuasaan Allah. Bahwa pemandangan kosmos seperti ini tidak asal dari letusan Big-Bang yang maha dasyat, lalu terbentuklah galaksi, bintang, planet, terbentuknya gunung, pulau, tumbuhan, hewan, manusia, lalu jadilah kamu, aku, dan kita semua. Tapi, penciptaan alam semesta pastinya ada campur tangan dari Sang Maha Pencipta. Buktinya? Teori Big-Bang sudah ada dalam Al-Qur’an beratus-ratus tahun sebelum ditemukannya teori tersebut

“Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam waktu enam masa..” – QS Hud:7

“Dia Pencipta langit dan bumi.” – QS. Al-An’aam: 101

Para filsuf , kosmolog, dan astrofisikawan (walaupun tidak semua) yang berpandangan bahwa “Tuhan itu tidak ada” ngotot mempertahankan pendapat, bahwa alam semesta bukanlah sesuatu yang diciptakan. Melainkan ada begitu saja, dengan sendirinya. Akhirnya terciptalah satelit COBE (Cosmic Background Explorer) yang bentugas untuk meneliti radiasi latar kosmis, darimana munculnya Big-Bang, dan lain sebagainya. Ah manusia. Sifat dasarnya memang lemah dan terbatas. Tidaklah mungkin keseimbangan dan tatanan luar biasa seperti alam semesta terbentuk dengan sendirinya dan secara kebetulan melalui suatu ledakan besar. Karena menurutku, pembentukan tatanan semacam itu menyusul ledakan seperti Big-Bang adalah satu bukti nyata adanya penciptaan supernatural.

Wallahu’alam bish-showab.

Semoga next time, aku bisa menikmati keindahan langit malam lagi. Ditemani oleh kekasih halalku kelak. Hanya kita berdua. Mengobrol asyik sepanjang malam, memandangi jutaan bintang yang berserakan di langit, mengagumi setiap ciptaan-Nya, ditambah lagi gugsan galaksi bimasakti yang menambah sempurnanya keindahan langit malam.

.

Tambahan: Untuk mas calon suami, kalau bisa ayo kita segerakan haha 😀

.

Selamat Sore.

A female engineer..

Tahun 2016, aku diterima kerja di sebuah perusahaan yang cukup terkenal di Gresik. Perusahaan bidang otomotif. Sebenarnya, sebelum masuk ke perusahaan otomotif ini aku sudah bekerja di sebuah perusahaan konstruksi di Surabaya. Tapi karena jabatanku disana hanya sebagai admin (yang menurutku kurang cocok dengan tingkat pendidikan yang kumiliki saat itu), aku memutuskan untuk pindah. Begitu aku resign dari perusahaan yang lama, mendapat referensi, sampai akhirnya mendaftar sebagai engineer di perusahaan otomotif tersebut.

Tak pernah kubayangkan ketika aku masuk di perusahaan baru itu, hatiku berdebar. Betapa tidak? Saat aku wawancara di salah satu plant perusahaan tersebut di daerah pinggiran kota Gresik, aku disuguhi pemandangan pabrik yang begitu besar dengan suasana kantor kelas atas. Bersih dan tidak ada satu kotoran menempel sedikitpun. Aku membayangkan hal-hal menyenangkan seandainya aku diterima dan bekerja di perusahaan itu. Perusahaan sekelas Astra, dan mensupply produk otomotif berkualitas ke berbagai belahan negara. Rasanya bangga sekali.

Tapi khayalan-khayalan itu tak berlangsung lama. Ketika minggu-minggu pertama aku “dihajar” oleh atasan dimana aku harus mendesain banyak tool untuk kebutuhan trial dan produksi. Tiap hari aku terpaksa lembur dan sampai pulang malam. Tak jarang pula aku merasakan pressure dan frustasi ketika desainku dikerjar deadline. “Perusahaan macam apa ini?!”pikirku saat itu.

Sampai bulan ketiga aku bekerja, aku diberi tantangan lebih oleh tim manajemen. Aku disuruh untuk mengemban tugas sebagai project leader untuk sebuah problem surface treatment yang sangat krusial bagi perusahaan. Alhamdulilah project itu masih berjalan sampai sekarang. memang berat rasanya, mengemban tugas dimana semua hal yang berhubungan dengan surface treatment, plating, coating, apalah sebutannya, harus dikerjakan oleh seorang cewek sendirian. Belum lagi project-project lain diluar itu yang harus segera kuselesaikan. Belum lagi tekanan dari atasan ketika pekerjaan tidak selesai karena saking banyaknya yang harus kukerjakan. Aku hanya bisa sabar dan melakukan yang terbaik.

Apakah kalian berpikir, mampukah seorang wanita menjadi seorang engineer? Mampu gak mampu, ya harus mampu. Inilah dunia engineer yang sebenarnya. Dunia yang sarat akan tantangan, kerja keras, logika-logika, persaingan, strategi, taktik, dan segala hal yang tidak pernah terpikirkan oleh seorang wanita sebelumnya.

Tapi, pernahkah kalian membayangkan, bagaimana jika suatu saat istri kalian adalah seorang engineer? Dimana engineer terkenal sebagai pekerjaan berat dan “cowok banget”?

Continue reading “A female engineer..”