Task-Oriented Leader vs Human-Relation Leader

carpenter-fig10_011

Ilustrasi Leadership dari flatworldknowledge.com

Epilog

Dua minggu yang lalu aku dikejutkan dengan berita pengunduran diri salah satu asisten manajer produksi, sebut saja namanya pak A. Beliau terkenal orang yang sangat baik kepada semua orang dan sangat taat dalam beribadah. Jujur berita ini sangat mengejutkan karena beliau resign secara mendadak dan terkesan terburu-buru.

Continue reading “Task-Oriented Leader vs Human-Relation Leader”

Sosmed oh Sosmed

fake-news-snopes

Gambar Peringatan Berita Hoax di Internet dari snopes.com

Setiap kali saya membuka Facebook, isinya selalu tentang berita hoax yang tujuannya nyinyir pihak lain. Mulai dari pihak A dianggap salah karena mendukung si B lah, atau pihak lain yang merasa dirinya benar dengan menjatuhkan pihak lain lah, dan banyak lagi berita-berita hoax yang provokatif dan kadang tidak masuk akal.

Media Sosial seakan-akan dijadikan ladang empuk bagi mereka yang mempunyai kepentingan tersendiri. Menyebarkan berita fitnah dengan mudahnya padahal belum tentu berita yang mereka sebarkan itu benar. Ada juga yang menyebarkan berita hoax dengan tujuan kuat-kuatan adu argumen sampai bermusuhan sana-sini, yang akhirnya berdampak pada kurangnya kerukunan masyarakat. Belum lagi meme atau ilustrasi yang bikin risih karena menjelek-jelekkan pihak lain, akhirnya berdampak pada kurangnya toleransi dan kerukunan antar warga negara Indonesia. Apa nggak capek bertengkar terus? Merusak keutuhan bhineka tunggal ika dengan mengirimkan berita-berita yang tidak penting?

Sosial media pada saat ini bukan lagi menjadi media informasi yang dipercaya. Banyak berita-berita yang diragukan kebenarannya bertebaran dan dibuat seakan itu real. Manusia seperti termakan gosip-gosip ibu rumah tangga yang pagi-pagi membeli sayur dengan roll rambut dan daster bolongnya. Okelah, memang posting di sosmed itu hak masing-masing setiap orang, tapi jika beritanya tidak bisa dipertanggung-jawabkan dan tidak ada referensi sumber yang jelas mengapa harus mentah-mentah dipercayai? Lalu tanpa ada angin tanpa ada hujan langsung nyinyirin orang lain? Bukannya dapat informasi positif, tapi malah menambah dosa. Naudzubillah.

Setidaknya kita bisa belajar dari rokok yang memfilter zat berbahayanya. Tidak semua informasi yang didapat langsung dilahap. Bisa dengan klarifikasi informasi, atau bisa menanyakan langsung kebenaran berita tersebut. tentunya akan lebih baik untuk crosscheck the truth daripada memendam berita kepalsuan.

Kalau aku pikir-pikir sih, rasanya menjadi seseorang yg kudet (kurang update) itu lebih baik daripada menjadi seseorang yang update tapi isi updatenya berita hoax.

Mending fokus perbaiki diri dan buat karya nyata kontribusi untuk sekitar. Perhatikan keluarga lebih dalam, fokuslah pada pekerjaan dengan lebih baik, perbaiki kualitas amalan ibadah, ajak ngobrol dan dengarkan cerita tetangga, bacalah buku yang berbobot. Banyak hal yang masih bisa dan seharusnya untuk dilakukan. Yang meskipun tampak kecil, tapi nyata dampak perbaikannya.

Tidak bergeser kaki kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat, hingga ditanya tentang empat perkara, tentang umurnya untuk apa dihabiskan, ilmunya bagaimana dia amalkan, hartanya dari mana ia dapatkan dan untuk apa ia belanjakan dan tentang tubuhnya bagaimana dia memanfaatkanya.” (HR. at-Tirmidzi)

Yang terpenting jangan lupa banyak berdoa supaya dijauhkan dari fitnahnya jaman 🙂

Selamat Malam.

Mungkin Bukan ‘Waktu’ku

Waktu

Sumber Gambar : http://unjkita.com

Melihat fenomena teman-teman yang sudah pada dilamar dan menikah membuat hatiku agak goyah. bertanya tanya pada diri sendiri kapan aku bisa menyempurnakan setengah ibadahku seperti mereka, hidup bersama dengan orang yang mereka cintai, membangun keluarga yang selalu diliputi rasa cinta dan kisah romantis, membangun keluarga yang selalu diberkahi Allah.. ah betapa bahagianya. Continue reading “Mungkin Bukan ‘Waktu’ku”

Aku dan langit malam

Aku suka sekali memandangi langit malam, Apalagi malam penuh bintang. Tahu kenapa? karena bintang yang tampak kecil itu adalah hiasan terbaik pada langit malam.Apalagi kalau ada bulan, itu lebih baik. Langitnya jadi komplit. Melihat langit malam dan hiasannya itu seperti pertanda bahwa ada rindu yang sedang menyesak. Kadang membawa haru, kadang membawa luka, kadang juga membawa bahagia. Rindu adalah pertanda alam akan sebuah kebutuhan bernama kebersamaan. Rindu itu sama indahnya dengan langit malam, membuat ucap syukur lebih sering dituturkan, membuat kita lebih banyak berdoa. Berdoa untuk dia yang kita rindukan. Begitu kan?

-dari sebuah akun di Tumblr

Kutipan itu memang benar. Langit malam adalah salah satu anugerah Tuhan yang tak terkira. Seakan seolah-olah mengajak kita untuk terus memandanginya sepanjang malam. Pemandangan indah penutup hari agar kita lebih sering mengucap syukur pada Sang Pemilik Semesta Alam.

Langit malam. Itulah hal yang membuatku sangat tertarik dengan ilmu astronomi; ilmu yang mempelajari tentang ruang angkasa dan segala isinya. Ilmu yang perhitungannya bisa menjebolkan kalkulator. Ilmu yang bisa melampaui batas imajinasi manusia, ilmu yang mempelajari bagaimana alam semesta terbentuk—tentunya kita harus yakin bahwa Tuhan juga ikut ambil bagian dalam penciptaan alam semesta ini.

Ketertarikanku berawal saat aku kelas 5 SD dan ikut Persami (kegiatan perkemahan Sabtu-Minggu) di sekolah. waktu itu tengah malam dan langit sedang cerah. Kemudian kakak Pembina menyuruh kami keluar kelas untuk menikmati api unggun dan bernyanyi bersama. Aku segera berlari menuju lapangan, lalu aku melihat ke atas. Aku melihat bintang-bintang berserakan memenuhi langit. Sangat indah. “Aku belum pernah melihat bintang-bintang sebanyak ini,” pikirku. Ketika kepalaku masih menengadah ke langit, teman sebelahku mengajak untuk segera duduk menikmati api unggun. Saat itulah, aku jatuh cinta pada langit malam untuk pertama kali.

Setelah kegiatan persami tersebut aku jalan-jalan ke toko buku bersama ibu. Toko buku adalah salah satu spot paling favorit untuk kukunjungi, bahkan sampai sekarang. Anak perempuan seumuran kelas 4 atau 5 SD biasanya masih senang bermain boneka Barbie, tapi aku tidak. Kelas 4 SD aku sudah dibelikan ibu beberapa buku ensiklopedia yang isinya lumayan agak berat untuk usia anak SD. Karena sering dibelikan buku, jadi ya kubaca saja. Buku demi buku kubaca berulang-ulang sampai aku paham. Akhirnya lama kelamaan aku menikmati hobi baru tersebut. Oh ya, kembali lagi ke cerita tadi. Setelah kegiatan persami aku dibelikan buku ensiklopedia anak-anak tentang luar angkasa. Aku sangat antusias membaca buku tersebut. Dari buku itu aku mulai mengenal tata surya dan seluruh anggota planetnya, mengenal bagaimana rupa matahari, bumi, bulan, dan tetangga-planet, bagaimana sebuah bintang itu terbentuk, bagaimana cara membaca peta bintang dan kontelasinya—dan saat itu aku baru ngeh ternyata bintang di langit itu ada pembagian rasi-nya, dimana rasi tersebut bisa menunjukkan musim saat itu, kapan waktu panen, penunjuk arah saat kita sedang berlayar di laut—dan banyak lagi ilmu-ilmu baru tentang luar angkasa yang aku pelajari.

Menginjak kelas 6. Aku dan teman-teman sekelas pergi karyawisata ke Planetarium di kawasan Surabaya Utara, mengunjungi Monumen Jalasveva Jayamahe di Pelabuhan Tanjung Perak dan terkahir berkunjung ke Monumen Kapal Selam. Yang paling kusenangi adalah mengunjungi planetarium. Disana kami disuguhkan pemandangan langit malam dan nama-nama bintang yang sering muncul. Kami juga disuguhkan bentuk-bentuk rasi bintang. “Persis yang ada di buku!” kataku. Aku tidak berhenti tersenyum karena melihat pemandangan langit malam yang lebih indah dari yang sebelumnya—meskipun bukan pemandangan yang sebenarnya—tapi aku sangat senang menikmati nya selama beberapa menit.

Sampai sekarang pun, aku masih ingin melihat pemandangan langit malam yang sebenarnya. Dimana langit malam sedang cerah, tidak ada polusi cahaya, penuh bintang, serta ditambah kabut tipis galaksi bimasakti yang menambah keindahan langit malam. Sayangnya di kota besar seperti Surabaya aku tidak bisa menemukan tempat segelap itu. Butuh perjalanan beberapa jam keluar kota, mungkin di daerah padang rumput atau dekat gunung kita bisa melihat pemandangan langit malam yang menakjubkan.

Pernah ketika bulan Mei 2016 aku dan teman-teman SMP berlibur ke Kawah Ijen, Banyuwangi. Kami melakukan pendakian pukul 01:00 dini hari dan sampai puncak Ijen sekitar pukul 03:45 pagi. Untungnya malam itu sedang cerah. Selama perjalanan tak henti-hentinya aku berhenti sejenak, mendongak ke atas untuk melihat keindahan langit malam. Baru pertama kali aku melihat pemandangan se-luar biasa itu. Jauh jauh lebih indah dan mempesona daripada langit malam yang kulihat waktu SD. Bintang-bintang berserakan tak beraturan seperti pasir yang ada di pantai. Mungkin jumlahnya milyaran. Kulihat kabut tipis sang Bima Sakti yang menambah decak kagumku. Tak henti-hentinya aku mengucap dzikir untuk mengingat kekuasaan Allah. Bahwa pemandangan kosmos seperti ini tidak asal dari letusan Big-Bang yang maha dasyat, lalu terbentuklah galaksi, bintang, planet, terbentuknya gunung, pulau, tumbuhan, hewan, manusia, lalu jadilah kamu, aku, dan kita semua. Tapi, penciptaan alam semesta pastinya ada campur tangan dari Sang Maha Pencipta. Buktinya? Teori Big-Bang sudah ada dalam Al-Qur’an beratus-ratus tahun sebelum ditemukannya teori tersebut

“Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam waktu enam masa..” – QS Hud:7

“Dia Pencipta langit dan bumi.” – QS. Al-An’aam: 101

Para filsuf , kosmolog, dan astrofisikawan (walaupun tidak semua) yang berpandangan bahwa “Tuhan itu tidak ada” ngotot mempertahankan pendapat, bahwa alam semesta bukanlah sesuatu yang diciptakan. Melainkan ada begitu saja, dengan sendirinya. Akhirnya terciptalah satelit COBE (Cosmic Background Explorer) yang bentugas untuk meneliti radiasi latar kosmis, darimana munculnya Big-Bang, dan lain sebagainya. Ah manusia. Sifat dasarnya memang lemah dan terbatas. Tidaklah mungkin keseimbangan dan tatanan luar biasa seperti alam semesta terbentuk dengan sendirinya dan secara kebetulan melalui suatu ledakan besar. Karena menurutku, pembentukan tatanan semacam itu menyusul ledakan seperti Big-Bang adalah satu bukti nyata adanya penciptaan supernatural.

Wallahu’alam bish-showab.

Semoga next time, aku bisa menikmati keindahan langit malam lagi. Ditemani oleh kekasih halalku kelak. Hanya kita berdua. Mengobrol asyik sepanjang malam, memandangi jutaan bintang yang berserakan di langit, mengagumi setiap ciptaan-Nya, ditambah lagi gugsan galaksi bimasakti yang menambah sempurnanya keindahan langit malam.

.

Tambahan: Untuk mas calon suami, kalau bisa ayo kita segerakan haha 😀

.

Selamat Sore.

A female engineer..

Tahun 2016, aku diterima kerja di sebuah perusahaan yang cukup terkenal di Gresik. Perusahaan bidang otomotif. Sebenarnya, sebelum masuk ke perusahaan otomotif ini aku sudah bekerja di sebuah perusahaan konstruksi di Surabaya. Tapi karena jabatanku disana hanya sebagai admin (yang menurutku kurang cocok dengan tingkat pendidikan yang kumiliki saat itu), aku memutuskan untuk pindah. Begitu aku resign dari perusahaan yang lama, mendapat referensi, sampai akhirnya mendaftar sebagai engineer di perusahaan otomotif tersebut.

Tak pernah kubayangkan ketika aku masuk di perusahaan baru itu, hatiku berdebar. Betapa tidak? Saat aku wawancara di salah satu plant perusahaan tersebut di daerah pinggiran kota Gresik, aku disuguhi pemandangan pabrik yang begitu besar dengan suasana kantor kelas atas. Bersih dan tidak ada satu kotoran menempel sedikitpun. Aku membayangkan hal-hal menyenangkan seandainya aku diterima dan bekerja di perusahaan itu. Perusahaan sekelas Astra, dan mensupply produk otomotif berkualitas ke berbagai belahan negara. Rasanya bangga sekali.

Tapi khayalan-khayalan itu tak berlangsung lama. Ketika minggu-minggu pertama aku “dihajar” oleh atasan dimana aku harus mendesain banyak tool untuk kebutuhan trial dan produksi. Tiap hari aku terpaksa lembur dan sampai pulang malam. Tak jarang pula aku merasakan pressure dan frustasi ketika desainku dikerjar deadline. “Perusahaan macam apa ini?!”pikirku saat itu.

Sampai bulan ketiga aku bekerja, aku diberi tantangan lebih oleh tim manajemen. Aku disuruh untuk mengemban tugas sebagai project leader untuk sebuah problem surface treatment yang sangat krusial bagi perusahaan. Alhamdulilah project itu masih berjalan sampai sekarang. memang berat rasanya, mengemban tugas dimana semua hal yang berhubungan dengan surface treatment, plating, coating, apalah sebutannya, harus dikerjakan oleh seorang cewek sendirian. Belum lagi project-project lain diluar itu yang harus segera kuselesaikan. Belum lagi tekanan dari atasan ketika pekerjaan tidak selesai karena saking banyaknya yang harus kukerjakan. Aku hanya bisa sabar dan melakukan yang terbaik.

Apakah kalian berpikir, mampukah seorang wanita menjadi seorang engineer? Mampu gak mampu, ya harus mampu. Inilah dunia engineer yang sebenarnya. Dunia yang sarat akan tantangan, kerja keras, logika-logika, persaingan, strategi, taktik, dan segala hal yang tidak pernah terpikirkan oleh seorang wanita sebelumnya.

Tapi, pernahkah kalian membayangkan, bagaimana jika suatu saat istri kalian adalah seorang engineer? Dimana engineer terkenal sebagai pekerjaan berat dan “cowok banget”?

Continue reading “A female engineer..”

Menulislah!

Sebenarnya, menulis itu sesuatu yang asyik. Apalagi kalau sedang mood dan lagi pengen-pengennya. Atau ketika mengalami sebuah pengalaman baru, hati tergerak untuk segera menuliskan dan membagikannya kepada khalayak ramai. Oh ya, ngomongin suka nulis, sejak SMP aku sudah mulai membiasakan diri menulis di blog. Walaupun semua isinya cuma hasil copy paste tentang artikel-artikel sains, sejarah, dan ilmu pengetahuan, tapi aku senang bisa membagikan hal tersebut pada orang lain.

Menginjak kelas 3 SMA aku mulai bosan dengan kegiatan tulis-menulis (lebih tepatnya kegiatan copy-paste) di dunia blog, dikarenakan saat itu aku lebih fokus ke Ujian Nasional dan fokus dengan ambisiku untuk masuk ke perguruan tinggi negeri. Dan efeknya, semangatku untuk menulis pun jadi memudar.

Kehidupan bangku kuliah yang begitu padat membuatku jadi makin malas untuk menulis. Dari siang sampai malam kujalani hari-hari perkuliahan di semester ganjil. Begitu pula saat semester genap, dari pagi sampai sore dicekoki dengan materi-materi kuliah tentang kapal dan segala isinya. Belum lagi kalau sedang praktek di bengkel perkakas atau bengkel konstruksi, capeknya minta ampun. Saat semester awal dulu beberapa teman mengajakku untuk mengikuti lomba PKM (Program Kreatifitas Mahasiswa), lomba menulis essai, ataupun lomba karya tulis ilmiah. Dan saat semester 3 aku pernah ikut PKM dan akhirnya menang. Walaupun tiap tahun PKM selalu ada dengan hadiah (yang bagiku) menggiurkan, aku tak pernah ikut lagi. Waktuku sudah habis untuk tugas dan jam-jam kuliah yang melelahkan.

Menginjak pertengahan tahun ketiga kuliah, aku diberitahu tentang situs Tumblr oleh salah satu temanku. Kemudian aku mencoba untuk membuat akun di situs ini dan membuat blog. Akhirnya  Tumblr  is my online diary.

Ya, aku sengaja tidak membagikan link tumblr ke khalayak ramai, karena isinya tentang cerita-cerita pribadi. Tentang cerita percintaan anak kuliah, cerita tentang cinta dalam diam, cerita romansa ala drama korea, cerita yang penuh kata andai-andai, pokoknya berlebihan deh. Lagipula aku tidak mau cerita-cerita ” FTV remaja” ini menjadi konsumsi publik, yang akhirnya menjadi bahan gojlokan diantara teman-teman kuliahku.

Ketika semester akhir, tumblrku mulai berdebu. Aku mulai jarang menulis karena disibukkan dengan aktivitas magang dan revisi tugas akhir. setelah lulus kuliah pun aku juga tidak pernah menulis lagi. sibuk dengan kegiatan mencari kerja, ikut job fair sana-sini, wawancara di sana-situ, tes ini-itu, sampai akhirnya aku mendapatkan pekerjaan di Surabaya 1 tahun yang lalu.

Kalau nggak pernah nulis, lalu buat apa bikin blog lagi?  Jawabannya: Karena aku sadar bahwa tulisan itu harusnya dibagikan, bukan dikonsumsi sendiri. Tulisan kita akan menjadi rekam jejak yang diingat orang, menginspirasi orang, walaupun sederhana tapi kita yang menciptakannya dari hati dan kepala. Sang sastrawan legenda, Pramoedya Ananta Toer pernah berkata: “menulislah selagi tanganmu belum mencapai renta, membacalah selagi matamu belum tertutup, dan mendengarlah selagi telingamu belum disumbat.” . Maknanya, kita tidak tahu berapa lama kita akan hidup di dunia, maka dari itu kita harus menulis, karena tulisan kita-lah yang akan abadi dan diingat orang sebagai bahan pembelajaran.

Mulailah menulis, apa saja. Air tidak akan mengalir sampai kran-nya dibuka.

—  Louis L’amor

Dan mungkin suatu ketika saat aku sudah hilang ingatan, atau pikun, masih ada tulisan yang mengingatkan. 🙂

Minggu pagi yang cerah di Surabaya, 26 Februari 2017.